Timbulnya buku ini jelas karena kerinduan saya mungkin juga kita terhadap karya-karya buya hamka dan pemicu khususnya adalah buku sufism.
Di kota yang pada masa lalu bernama Konstantinopel ini banyak situs bersejarah: istana-istana, masjid-masjid, pasar-pasar hingga Selat Bosphorus yang menawan. Istanbul ialah potret unik perjumpaan Peradaban Timur dan Barat. Buku ini tak sekadar men catat kisah Istanbul sebagai kota legendaris yang pernah menjadi ibukota Turki Usmani, tetapi juga melebar hingga fenomena Turki modern yang tengah …
Benarlah yang dikatakan banyak orang bahwa menjadi orangtua adalah pekerjaan paling penting di dunia namun paling tidak dipersiapkan. Kita mendalami sekitar 4-5 tahun di perguruan tinggi, bahkan kadang lebih, untuk memahami bagaimana menjadi arsitek, dokter, ahli hukum, dan lainnya. Namun, untuk menjadi orangtua sering kali tidak dipikirkan bagaimana mempersiapkannya, bagaimana jenjang pendidik…
Kepemimpinan politik sering diperbincangkan. Di era demokrasi, khalayak dengan aneka latar belakang terlibat di dunia, kalau bukan belantara politik, kendatipun mereka seringkali tanpa perlu memahami sejatinya politik. Buku ini mengajak pembaca mendiskusikan hal-ikhwal kepemimpinan politik: mengapa politik perlu? Mengapa jiwa dan aktualisasi kepemimpinan harus mengemuka? Mengapa perlu surplus N…
Memotret rumitnya dinamika politik di Turki, yang tak sekadar ditandai kontestasi militer dan sipil, tetapi juga pergumulannya dengan ranah politik yang seringkali absurd. Percobaan kudeta 15 Juli 2016 menjadi alasan untuk melihat kembali struktur politik dan kultur politik Turki secara mendalam. Buku ini menjadi salah satu referensi kajian Turki kontemporer, terutama terkait isu militer dan tr…
Siapa yang tidak kenal Muhammad Ali? Dia petinju legendaris yang menandai abad ke-20. Kalau Anda berada pada kurun waktu akhir 1960-an, 1970-an, dan awal 1980-an, Anda akan ingat ketika sebuah kotak ajaib simbol modernitas yang bernama televisi dikerubuti banyak orang disekitarnya untuk ditonton, sesekali mereka berteriak, tetapi juga cukup tegang: Ali! Ali! Ali! Mengapa Cassius clay yang kemud…